Oleh: Mahfud El-Kautsar
Banyak pendapat saling berlainan dalam mendefinisikan arti kehidupan. Masing-masing memiliki pemahaman dan keyakinan tersendiri terhadap pandangan kehidupan. Kehidupan adalah sebagai nikmat yang wajib disyukuri, amanat yang wajib dipelihara, risalah yang harus disampaikan dan kesempatan yang harus dimanfaatkan.
Ada sebagian orang mengira bahwa agama tidak peduli dengan kehidupan dunia ini, sebab agama hanya menganggap kehidupan akhirat sebagai kehidupan yang hakiki, seperti yang dikatakan Al-Qur'an: "… dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui." (Q.S al-Ankabut: 64). Dalam hadits bahkan dikatakan perbandingan dunia dengan akhirat dalam sabda Nabi saw: " tidaklah dunia dibanding akhirat kecuali seperti seseorang memasukan jarinya ke dalam lautan. Maka lihatlah apakah ada perubahan bagi air laut" (HR. Muaslim).
Ini semua memang benar adanya, tetapi tidak dengan sendirinya berarti membiarkan kehidupan dunia, atau tidak memperhatikannya. Sekali lagi tidak demikian. Islam tidak sefaham dengan ajaran agama-agama dan filsafat-filsafat pesimisme, yang melihat alam ini sebagai keburukan yang mesti segera dibinasakan, dan melihat bahwa kehidupan di alam ini adalah musibah yang kita di coba dengannya. Tidak, tidaklah demikian sebenarnya. Hidup adalah nikmat. Ia adalah karunia Allah.
Memang benar, bahwa kehidupan ini fana'. Tetapi ia hanya stu-satunya ladang pembekalan untuk kehidupan yang kekal. Seorang mukmin akan menanam disini (di dunia) agar ia menuai hasilnya kelak di sana (akhirat), beramal disini untuk memetik ganjarannya di sana. Di dunia inilah orang akan berlomba-lomba dalam melakukan kebaikan dengan memanfaatka setiap detik kesempatan yang tersedia, agar ia mendapatkan tempat yang mulia di sisi tuhannya.
Memang betul bahwa kehidupan ini sangat singkat, tetapi juga pada saat yang sama sangat berharga. Sebab ia hanya satu-satunya kesempatan bagi manusia untuk meraih kebahagiaan yang abadi. Manusia tidak akan mengalami kehidupan dunia dua kali, juga tidak akan diberi usia di dunia dua kali. Adalah sangat bodoh orang yang menyia-nyiakan kesempatan berharga yang tersedia baginya.
Hidup di dunia ini bukanlah beban yang wajib dihindari. Rasulullah saw. Dalam banyak hadits melarang untuk memohon lekas mati: dari Abu Hurairah secara marfu' " tidak boleh seseorang mengharap kematian dan jangan berdo'a untuk lekas menjemput dirinya sebelum waktunya datang. Dan sesungguhnya jika ia mati terputuslah semua amalnya, dan tidaklah seorang mukmin bertambah usianya kecuali ia menjadi kebaikan baginya. (HR. Muslim).
Diantara keistimewaan Islam adalah ia menyerukan berkarya dalam hidup ini, memakmurkan serta memanfaatkan kenikmatan-kenikmatannya. Islam tidak memandang hal yang demikian ini sebagai bertolak belakang dengan usaha untuk memakmurkan dan mempersiapkan akhirat, dan meraih kebahagiaan keduanya: "Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka." (Q.S. al-Baqarah:201).
Dari beberapa pengertian tentang kehidupan di atas. Hidup di dunia ini adalah sebuah anugrah yang wajib kita jalani dengan selalu memanfaatkan segala kesempatan dan mensyukuri segala kenikmatan yang ada. Agar kita mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat sebagai kehidupan yang abadi.
Banyak pendapat saling berlainan dalam mendefinisikan arti kehidupan. Masing-masing memiliki pemahaman dan keyakinan tersendiri terhadap pandangan kehidupan. Kehidupan adalah sebagai nikmat yang wajib disyukuri, amanat yang wajib dipelihara, risalah yang harus disampaikan dan kesempatan yang harus dimanfaatkan.
Ada sebagian orang mengira bahwa agama tidak peduli dengan kehidupan dunia ini, sebab agama hanya menganggap kehidupan akhirat sebagai kehidupan yang hakiki, seperti yang dikatakan Al-Qur'an: "… dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui." (Q.S al-Ankabut: 64). Dalam hadits bahkan dikatakan perbandingan dunia dengan akhirat dalam sabda Nabi saw: " tidaklah dunia dibanding akhirat kecuali seperti seseorang memasukan jarinya ke dalam lautan. Maka lihatlah apakah ada perubahan bagi air laut" (HR. Muaslim).
Ini semua memang benar adanya, tetapi tidak dengan sendirinya berarti membiarkan kehidupan dunia, atau tidak memperhatikannya. Sekali lagi tidak demikian. Islam tidak sefaham dengan ajaran agama-agama dan filsafat-filsafat pesimisme, yang melihat alam ini sebagai keburukan yang mesti segera dibinasakan, dan melihat bahwa kehidupan di alam ini adalah musibah yang kita di coba dengannya. Tidak, tidaklah demikian sebenarnya. Hidup adalah nikmat. Ia adalah karunia Allah.
Memang benar, bahwa kehidupan ini fana'. Tetapi ia hanya stu-satunya ladang pembekalan untuk kehidupan yang kekal. Seorang mukmin akan menanam disini (di dunia) agar ia menuai hasilnya kelak di sana (akhirat), beramal disini untuk memetik ganjarannya di sana. Di dunia inilah orang akan berlomba-lomba dalam melakukan kebaikan dengan memanfaatka setiap detik kesempatan yang tersedia, agar ia mendapatkan tempat yang mulia di sisi tuhannya.
Memang betul bahwa kehidupan ini sangat singkat, tetapi juga pada saat yang sama sangat berharga. Sebab ia hanya satu-satunya kesempatan bagi manusia untuk meraih kebahagiaan yang abadi. Manusia tidak akan mengalami kehidupan dunia dua kali, juga tidak akan diberi usia di dunia dua kali. Adalah sangat bodoh orang yang menyia-nyiakan kesempatan berharga yang tersedia baginya.
Hidup di dunia ini bukanlah beban yang wajib dihindari. Rasulullah saw. Dalam banyak hadits melarang untuk memohon lekas mati: dari Abu Hurairah secara marfu' " tidak boleh seseorang mengharap kematian dan jangan berdo'a untuk lekas menjemput dirinya sebelum waktunya datang. Dan sesungguhnya jika ia mati terputuslah semua amalnya, dan tidaklah seorang mukmin bertambah usianya kecuali ia menjadi kebaikan baginya. (HR. Muslim).
Diantara keistimewaan Islam adalah ia menyerukan berkarya dalam hidup ini, memakmurkan serta memanfaatkan kenikmatan-kenikmatannya. Islam tidak memandang hal yang demikian ini sebagai bertolak belakang dengan usaha untuk memakmurkan dan mempersiapkan akhirat, dan meraih kebahagiaan keduanya: "Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka." (Q.S. al-Baqarah:201).
Dari beberapa pengertian tentang kehidupan di atas. Hidup di dunia ini adalah sebuah anugrah yang wajib kita jalani dengan selalu memanfaatkan segala kesempatan dan mensyukuri segala kenikmatan yang ada. Agar kita mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat sebagai kehidupan yang abadi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar